Monthly Archives: February 2019

Jayanti

Yang berteman dengan saya di Facebook mungkin ada yang heran kenapa saya menulis nama tengah Jayanti. Padahal saya biasa menulis nama lengkap Ivan G Nugraha. G itu singkatan yang saya malas untuk menuliskannya. Entah kenapa. Yang pasti bukan karena saya menganggap nama tengah yang jelek, tapi saya malas menjawab kalau ditanya kenapa. Karena itu saya tulis Jayanti di kotak nama tengah Facebook karena tidak bisa diisi dengan hanya satu huruf saja. Nah Jayanti itu sebenarnya nama yang terkait dengan tempat lahir saya.

Nama tengah saya merupakan gambaran kondisi alam saat saya dilahirkan. Kata Ayah saya, saya lahir di saat alam sedang bergejolak. Belakangan baru saya tahu ternyata nama tengah saya merupakan nama surah di Al-Quran (terjemah indonesianya). Yang penasaran silahkan cari sendiri. Letaknya nggak jauh dari surah favorit saya Surah Yusuf, surah nomor 12 juz 12. Kebetulan saya lahir tanggal 12 bulan 12. Cuma #utakatikgatuk saya saja… heuheuheu…

Saya lahir di Cianjur Selatan, tepatnya di Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun. Di daerah tersebut ada pelabuhan yang namanya Jayanti. Kata almarhum nenek saya dari pihak ayah,  yang memberi nama Jayanti itu adalah kakek saya saat beliau bertugas sebagai camat, Beliau berdua bukan asli Cidaun. Yang asli Cidaun itu kakek dan nenek saya dari pihak ibu. Nah pelabuhan Jayanti itu juga merupakan tempat kakek saya dari pihak ibu biasa membeli ikan untuk dijual lagi dengan berkeliling ke kampung-kampung.

Jadi dari kakek saya dari pihak ayah saya punya darah birokrat, sedangkan dari kakek saya dari phak Ibu saya punya darah pedagang. Mungkin karena itu selain tertarik dengan dunai bisnis (dagang) saya juga tertarik dengan dunia politik. Tapi saya tidak pernah bercita-cita menjadi birokrat. Saya lebih nyaman menjadi rakyat biasa yang menggeluti dunia bisnis.

Pada saat masih hidup, nenek saya pernah cerita bahwa nama Jayanti yang diberikan kakek saya itu merupakan singkatan dari Jayanya Nanti. Entah apa maksudnya. Yang pasti kondisi pelabuhan Jayanti saat ini masih biasa saja. Belum layak disebut maju tapi tidak tepat juga disebut tertinggal.

Entah kenapa setiap saya membaca hal-hal yang terkait dengan politik hampir selalu teringat dengan Jayanti. Saya merasa itu semacam ramalan atau cita-cita kakek saya mengenai Indonesia di masa mendatang. Dan saya merasa harus ikut terlibat mewujudkannya.

Kejayaan Indonesia merupakan cita-cita hampir semua warga negara Indonesia. Termasuk saya sendiri. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut salah satunya harus lewat jalur perjuangan politik. Jadi mau tidak mau saya harus peduli dengan politik. Bahkan pada suatu saat tidak menutup kemungkinan saya ikut terlibat di dalamnya. Tapi saya melakukannya bukan ‘Demi Bangsa Dan Negara’ seperti yang sering diucapkan para pejabat dan politisi kita. Mungkin saya melakukannya demi mewujudkan cita-cita kakek saya. Sesederhana itu alasannya.

Oh iya, di dekat Pelabuhan Jayanti ada hutan lebat, di situ ada batu besar yang konon katanya merupakan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi setelah bertemu dengan putranya Prabu Kian Santang. Saya belum pernah melihat tempatnya. Saya juga tidak tahu cerita tersebut benar atau tidak. Yang pasti cerita tersebut tidak ada hubungannya dengan saya. Saya hanya menyampaikan saja. Boleh percaya atau tidak.