Anugerah

Sama seperti postingan sebelumnya, postingan ini sebagiannya juga terinspirasi oleh tulisan Mas Hamid di blog pribadinya. Pada tulisan surat terbuka berupa ajakan kepada teman-temannya, Mas Hamid tidak membumbuinya dengan iming-iming balasan berkali lipat dari Tuhan seperti yang sering kita dengar dari para penceramah dan motivator. Mungkin karena tulisan tersebut ditujukan kepada teman-teman Mas Hamid yang sudah berkecukupan. Tapi mungkin juga karena pemikiran mas Hamid tentang membantu orang lain sama dengan pemikiran saya akhir-akhir ini.

Tentu saja saya sangat percaya, kalau kita membantu orang lain, Tuhan pasti akan membalas kebaikan kita. Tapi menunggu balasan Tuhan terlalu lama bagi saya. Apalagi waktu dan bentuk balasan Tuhan belum tentu sesuai dengan yang saya inginkan. Menurut saya hitung-hitungan Tuhan tidak bisa dijabarkan dengan hitung-hitungan ala manusia.

Kalau saya punya kesempatan dan kemampuan membantu orang lain, saya lebih memilih balasan yang bisa saya nikmati saat itu juga. Saya akan ikut menikmati kebahagian yang dirasakan oleh orang yang saya bantu. Oleh karena itu saya merasa beruntung pernah mengalami keterpurukan. Karena saya pernah merasakan kebahagiaan ketika ada orang yang mau membantu saya lepas dari keterpurukan.

Kalau orang yang saya bantu tidak menunjukan rasa terima kasih atau melupakan kebaikan saya, insya Allah saya akan tetap menikmatinya. Karena bagi saya, bisa berbuat kebaikan itu adalah anugerah. Bukan sebuah prestasi yang layak saya banggakan di hadapan Tuhan apalagi di hadapan manusia. Tidak semua orang dianugerahi Tuhan berupa kelapangan hati untuk berbuat baik kepada orang lain. Jadi seharusnya saya bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah memberi saya kemampuan dan kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Saya percaya ada peran Tuhan ketika kita bisa melakukan kebaikan. Dan tentu ada juga peran diri kita sendiri, tapi saya selalu berusaha menihilkannya. Namun kalau saya berbuat keburukan, saya akan menganggapnya murni kesalahan saya sendiri. Sangat tidak sopan kalau menyandingkan Tuhan dengan keburukan yang kita lakukan.

Kalau terlanjur berbuat keburukan saya berusaha mencari ‘hal positif’ yang bisa saya ambil. Minimalnya menjadi alasan buat saya untuk tidak merasa suci. Karena bagi saya, merasa suci adalah salah satu bencana hidup. Bencana hidup yang lain adalah merasa pintar.

Kalau kita berbuat keburukan, sangat pantas kalau kita mendapat teguran dari Tuhan. Bentuknya bisa bermacam-macam, musibah salah satunya. Sungguh beruntung orang yang berbuat keburukan masih ditegur Tuhan. Berarti Tuhan masih peduli dengaannya. Karena bagi saya, bencana yang paling buruk dalam hidup adalah ketika Tuhan tidak penduli lagi dengan hidup kita.

Saya tidak tahu kenapa saya punya pemikiran seperti itu. Bagi saya, pemikiran seperti itu juga anugerah. Namun saya berusaha menepis godaan bisikan bahwa saya sudah sampai pada derajat tertentu.Saya ulang sekali lagi, khusus untuk saya sendiri. Merasa suci adalah salah satu bentuk bencana dalam hidup.

Saya sadar tidak semua orang paham dengan pemikiran saya. Namun saya yakin suatu saat akan ada yang memahaminya. Sama seperti Mas Hamid yang baru mengerti keantikan pandangan hidup bapaknya setelah Mas Hamid merasakannya sendiri. Bahwa jadi kaya dan bisa ini itu adalah satu hal, tapi bisa membuat orang bisa ini dan itu adalah hal yang lebih membahagiakan.

Yang sudah paham dengan pemikiran saya, tidak harus mengikutinya. Yang tidak setuju sama sekali dengan pemikiran saya juga tidak perlu khawatir. Saya tidak akan memusuhi dan menganggap salah. Karena pemikiran saya ini, bukan sebuah kebenaran mutlak. Ini hanya tafsir saya dalam menjalani kehidupan . Saya menghormati orang yang berbeda tafsir dengan saya. Suatu saat, tafsir saya bisa saja berubah.

Sesuatu yang saya anggap sebagai anugerah, bisa jadi bukan apa-apa bagi orang lain. Bahkan bisa jadi dianggapnya sebagai bencana. Saya jadi ingat syair lagu Ebiet G. Ade.

…..
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya
…..

Saya tidak tahu maksud dari syair itu apa, heuheuheu.

Bagi kebanyakan orang yang sedang mengangan-angankan kekayaan dan kesuksesan, mungkin keberadaan para motivator merupakan anugerah bagi hidup mereka. Petuah para motivator menjadi makanan mereka sehari-hari, agar mereka termotivasi untuk kerja keras demi menggapai kekayaan dan kesuksesan. Sungguh rumit hidup ini, kalau untuk kerja keras saja harus pake motivasi-motivasian.

Bagi saya sendiri, mengenal orang seperti Mas Hamid adalah anugerah bagi hidup saya. Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman Mas Hamid yang sudah mau menuliskan cerita tentang beliau. Teman-teman Mas Hamid juga merupakan anugerah buat saya. Doa saya untuk Mas Hamid dan kalian semuanya.

Saya tidak menilai rendah orang yang berprofesi sebagai motivator. Setiap orang punya perannya masing-masing. Tapi bagi saya, para motivator itu tak ada bedanya dengan saya. Mereka didengar omongannya kalau bisa menunjukan bukti kesuksesan dan kekayaan. Apa ada orang yang mau datang ke seminar motivasi yang dibawakan oleh orang yang belum dianggap kaya dan sukses?

Sedangkan orang-orang seperti Mas Hamid, kita belajar dan mendekat kepadanya bukan karena kekayaan dan kesuksesan tapi kerena ketulusan, kesederhanaan dan entah apa lagi yang kita tidak tahu percisnya apa. Seperti jatuh cinta pada seseorang yang kita tidak tahu alasannya apa.

Mungkin Tuhan mengirim orang seperti Mas Hamid untuk menyeimbangkan hidup kita yang lebih banyak dipenuhi hal-hal duniawi yang materialistis. Kita tidak harus meniru prinsip dan cara beliau dalam menjalani hidup. Terus terang saya sendiri tidak akan mampu menjalani hidup seperti Mas Hamid.

Minimalnya kita bisa jadikan Mas Hamid sebagai cermin, bahwa hidup yang kita jalani masih jauh dari sempurna menurut ukuran Tuhan. Dengan itu kita terus berproses memperbaiki diri. Kalau dalam berproses masih sering melakukan kesalahan ya jangan putus asa. Diulang lagi saja. Bukankah Tuhan itu Maha Mensyukuri. Mas Hamid sering menyebutnya Tuhan Maha Asyik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *